Kamis, 23 November 2023

Mengenal Sasambo, Suku-suku di Provinsi Nusa Tenggara Barat

Mengenal Sasambo, Suku-suku di Provinsi Nusa Tenggara Barat


P
rovinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki tiga suku di dalamnya, yaitu Suku Sasak, Suku Samawa (Sumbawa), dan Suku Mbojo. Provinsi NTB sendiri terdiri dari dua pulau, yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Pada tahun 2020, penduduk Nusa Tenggara Barat berjumlah 5.320.092 jiwa, dengan kepadatan 264 jiwa/km2. Dilansir dari laman Gerakan Literasi Nasional Kemdikbud, terdapat dua kelompok bahasa Melayu Polinesia, yaitu subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur, tepatnya di antara daerah yang memakai bahasa Samawa dan bahasa Mbojo di Pulau Sumbawa.

Ketiga suku di Provinsi NTB mendiami dua pulau, seperti Suku Sasak tinggal di Pulau Lombok. Sedangkan Suku Samawa dan Suku Mbojo tinggal di Pulau Sumbawa bagian barat dan timur. Selain tiga suku mayoritas, terdapat suku lain tinggal di NTB, yaitu Bali, Jawa, Bugis, Bajo, Banjar, dan Melayu.

Suku Sasak


Dilansir dari Wikipedia, Suku Sasak merupakan orang-orang yang mendiami Pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar Suku Sasak beragama Islam, dan sebagian kecil lainnya beragama Wetu Telu dan Sasak Boda.

Bahasa Sasak memiliki lima dialek, salah satunya dialek Pejangi, Selaparang, dan Bayan. Bahasa Sasak memiliki perpaduan Bahasa Bali dan Jawa, begitupun aksara/tulisannya memiliki persamaan dengan Bahasa Jawa-Bali.

Masyarakat Suku Sasak memegang teguh tradisi leluhur. Suku Sasak memiliki tradisi pernikahan unik, yaitu membawa kabur calon pengantin perempuan. Suku Sasak juga memiliki tradisi Bau Nyale (menangkap cacing Nyale), sebagai bentuk mengharapkan kesejahteraan.

Suku Samawa


Suku Samawa atau Suku Sumbawa merupakan orang-orang yang mendiami wilayah barat dan tengah Pulau Sumbawa, yang meliputi Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Suku Sumbawa menyebut dirinya sebagai Tau Samawa, yang berarti orang Samawa atau orang Sumbawa.

Seperti Suku Sasak, sebagian besar Suku Samawa memeluk agama Islam. Sedangkan untuk bahasa, Suku Samawa menggunakan bahasa Sumbawa atau disebut juga Suku Sumbawa. Dialek Samawa terdiri dari dialek Semawa', Taliwang, Barturotok/Batulante, Ropangsuri, Selesek, Lebah, Dado, Jeluar, Tanganam, Geranta, dan Jeruek.

Suku Mbojo


Suku Mbojo awalnya mendiami Pulau Sumbawa bagian Timur, namun sekarang terbagi menjadi tiga bagian administratif, yaitu Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu. Suku ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok penduduk asli (Duo Donggo) tersebar di gunung dan lembah, dan kelompok orang Bima (Duo Mbojo) menghuni kawasan pesisir pantai.

Sementara untuk bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Donggo. Bahasa ini digunakan masyarakat yang tinggal di pegunungan. Selain bahasa Donggo, Suku Mbojo juga menggunakan bahasa Bima. Bahasa ini merupakan bahasa ibu.

Aksara bahasa Bima banyak persamaan dengan aksara Makassar Kuno. Bahasa Bima terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu tingkat halus/bahasa istana, tingkat menengah yaitu bahasa sehari-hari, dan tingkat rendah/kasar. 
Coppy@detik.com




Minggu, 15 Oktober 2023

Keunikan Ntumbu, Tradisi Adu Kepala Orang Bima

Keunikan Ntumbu, Tradisi Adu Kepala Orang Bima


Indonesia memang memiliki kekayaan tradisi dan budaya. Mulai dari prosesi pernikahan, pemakaman, hingga penyambutan tamu. Kalau biasanya menyambut tamu dengan tari-tarian, di Bima, Nusa Tenggara Barat tamu disuguhkan dengan atraksi tradisional.

Nama atraksi tersebut adalah mpaa ntumbu atau biasa disebut ntumbu. Ntumbu merupakan tradisi mengadu kepala dua pria dewasa, layaknya dua ekor domba yang sedang bertarung. Jika tertarik untuk menyaksikan atraksi adu kepala, Anda bisa mendatangi Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Untuk ke Bima, kita harus menyebrang dari Pulau Lombok. Ada juga penerbangan khusus ke Bima, jadi tidak perlu khawatir. Dari pusat pemerintahan Kabupaten Bima, perjalanan kurang lebih satu jam menuju ke Desa Maria.

Biasanya ritual ntumbu digelar di halaman mumbung khas masyarakat Bima. Ntumbu sudah ada sejak ratusan tahun lalu saat masa Kesultanan Bima. Ketika itu ada seorang prajurit yang berasal dari Ntori bernama Hamid. Saat perang berlangsung, senjata pasukan Bima dirampas musuh.

Lalu, Hamid mengajak para pasukan Bima untuk berani maju dengan hanya mengandalkan kepala mereka sebagai senjata. Pasukan Bima menyerang dengan menyeruduk ke arah musuh. Dari perlawanan dan menggunakan senjata “kepala manusia” ini, mpaa ntumbu kemudian dikenal sebagai wujud dari nilai perlawanan terhadap musuh.

Di masa kini, ntumbu menjadi acara penyambutan tamu dan bagian dari identitas budaya orang Bima atau Mbojo. Untuk pelaksanaan ritual ini, akan dipilih dua orang yang saling membenturkan kepala secara bergantian atau yang disebut, "Sabua dou ma te’e sabua dou ma ntumbu" (satu dalam posisi bertahan dan satunya lagi dengan posisi menyerang). Tabuhan gendang dan Silu (alat musik dari daun lontar) mengiringi para peserta mpaa ntumbu.

Satu peserta bersiap yang menyerang atau tee, sementara yang lainnya akan menerima serangan. Tee akan mengambil jarak tertentu sebelum akhirnya mendekat ke arah penerima serangan. Sebelum diserang, peserta akan mengangkat ibu jari sebagai tanda bahwa dia sudah siap. Lalu, Tee menyerang kepala lawan, setelah itu bergantian.

Bukti bahwa ritual ini benar-benar dilakukan terdengar dari suara benturan yang dihasilkan. Meski saling beradu kepala, tidak ada peserta ntumbu yang kesakitan apalagi berdarah. Efek kebal itu diyakini berasal dari mantera yang dirapal oleh tetua adat dan air doa. Peserta juga berserah sepenuhnya kepada Sang Maha Kuasa sehingga mereka tidak takut rasa sakit untuk melakukan ntumbu.

Pertandingan ntumbu dipimpin dan diawasi oleh Sando atau orang pintar yang juga bertugas sebagai wasit. Dalam ntumbu, tidak ada yang menang ataupun kalah. Bahkan, peserta yang mengikuti ntumbu tidak akan merasa dendam kepada lawannya.




berita pendaki gunung, berita adventure, pendaki gunung, kaos pendaki gunung, jasa pembutan website murah, website organisasi, website sekolah, website developer, pembutan website, website desa, website sekolah, website otomotif, website organisasi, sispala, mapala, komunitas, adventure, pendaki gunung, cerita pendaki gunung, marcandes adventure, gunung rinjani, gunung gede, websitemurah, 

Selasa, 09 Mei 2023

Mengenal Budaya Rimpu Suku Mbojo, NTB

Mengenal Budaya Rimpu Suku Mbojo, NTB

Rimpu adalah nama pakaian asal suku mbojo, pulau Sumbawa,Nusa Tenggara Barat.


Rimpu adalah memakai sarung dengan melingkarkannya pada kepala dimana yang terlihathanya wajah pemakainya dengan menggunakan sarung. kebudayaan rimpu yang merupakansalah satu hasil kebudayaan masyarakat Dompu-Bima. Umumnya, kaum perempuan memakai rimpu untuk menutup auratnya sebagaimana ajaran Islam mengajarkan bahwa setiap kaum perempuan yang sudah aqil balik harus menutup auratnya di hadapan orang yang bukan muhrimnya.


Ada dua jenis busana rimpu yang di gunakan oleh perempuan Dompu-Mbojo, Bagi perempuan yang belum menikah memakai busana rimpu hanya keliatan bagian mata dan telapak tangannya saja, sedangkan bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga memakai busana rimpu boleh keliatan bagian wajah.


Adanya perbedaan penggunaan rimpu antara yang masih gadis dengan yang telah bersuami, sebenarnya secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat terutama kaum pria tentang status wanita, apakah wanita tersebut sudah berkeluarga atau masih gadis, itulah yang unik dari budaya rimpu suku mbojo tersebut.

Keunikan dari budaya berbusana suku mbojo tersebut harus tetap di lestarikan, agar tidak punah sehingga generasi selanjutnya tau bahwa makna dari berbusana rimpu itu apa.

Busana rimpu yang menjadi salah satu budaya berbusana suku mbojo sekarang hampir punah, hal itu di sebabkan karena masyarakat Dompu-Bima, sudah jarang menggunakan rimpu untuk menutup aurat, hal itu disebabkan sudah banyak busana menutup aurat yang lebih bermoderen yang bermunculan.

Ibu-ibu yang sudah menikah/berkeluarga yang dulunya selalu menggunakan rimpu untuk berbusana menutup aurat sekarang sudah banyak yang beralih menggunakan jilbab. Begitupun perempuan yang belum menikah seakarang tidak lagi menggunakan rimpu, mereka memakai rimpu pada saat ada acara atau ivent tertentu saja yang diadakan. Karena apabila memakai rimpu, para perempuan yang masih gadis itu merasa malu sehingga mereka lebih menggunakan jilbab untuk menutup auratnya ketimbang menggunakan rimpu yang menjadi budaya berbusana suku mbojo.

Rimpu merupakan sebuah budaya dalam busana pada masyarakat Dompu-Bima (Dou Dompu Mbojo). Budaya "rimpu" telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Dompu-Bimaada. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalandengan kondisi daerah yang bernuansa Islam.Rimpu adalah cara berbusana masyarakatDompu-Bima yang menggunakan sarung khas Bima. Rimpu merupakan rangkaian pakaianyang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi”katente” (menggulungkan sarung di pinggang).Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua lembar sarung yang bertujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok.

Untuk melestarikan budaya rimpu tersebut, pemerintah kab. Dompu, Kab. Bima dan Kota Bima sengaja mengadakan acara atau ivent untuk melestarikan budaya rimpu tersebut agar bisa tetap lestari dan di ketahui oleh semua orang.

Tapi kembali lagi ke budaya masayarakat Dompu-Bima yang sekarang sudah sedikit melupukan budaya rimpu tersebut, mereka lebih banyak menggunakan jilbab dengan alasan lebih praktis, selain itu juga para perempuan yang masih gadis masih banyak yang belum mengetahui cara memakai busana rimpu yang sesungguhnya, masih ada yang belum bisa memakai rimpu dengan alasan karena terlalu ribet dan butuh waktu yang lama oleh karena itu mereka lebih baik menggunakan jilbab sebagai alternatif untuk menutup aurat.


Tidak berhenti disitu saja pemerintah kab. Dompu,Kab. Bima dan Kota Bima tidak berhenti di situ saja,pemerintah terus mengadakan lomba-lomba untuk tetap melestarikan budaya tersebut, karena jaman sekarang sudah jarang sekali terlihat perempuan suku mbojo yang mengenakan rimpu, mudah-mudahan melalui acara-acara melestarikan budaya tersebut kita dapat mempertahankan budaya-budaya local yang ki8ni hampir punah dan bisa memperkenalkan budaya rimpu kepada generasi-generasi sekarang sehingga mereka tidak merasa asing dengan budayanya sendiri.

Kita ketahui bersama bahwa budaya rimpu tersebut sudah jarang di gunakan oleh kaum perempuan, sehingga generasi muda selanjutnya kurang paham dengan pakaian berbusana rimpu ttersebut, banyak anak-anak yang memakai busana rimpu tapi itu mereka gunakan hanya untuk bermain ninja-ninja karena emang cara berbusana rimpu tersebut mirip seperti ninja, mereka tidak tau apa manfaat atau kegunaan menggunakan rimpu tersebut adalah untuk menutup aurat.

Budaya berbusana rimpu sudah mulai di perkenalkan di acara-acara atau ivent-ivent besar seperti pada saata acara memperingati kesultanan Bima dan akan di perkenalkan juga pada saat acara Tambora Menyapa Dunia. Busana rimpu akan lebih dikenal sama semua orang bukan cumin suku mbojo saja yang tau bahkan orang dari daerah lain juga akan mengetahui keunikan berbusana dari suku mbojo tersebut.

Budaya berbusana rimpu harus tetap dilestarikan sampai kapanpun karena itu adalah warisan budaya ssuku mbojo yang harus tetap dipertahankan samapai kapan pun, generasi muda harus paham akan budaya nya sendiri dan harus ikut tetap melestaraikan budaya berbusana rimpu tersebut hingga pada akhirnya mereka akan menggunakan rimpu tersebut bukan pada saat acara-acara atau ivennt-ivent tertentu saja melainkan digunakan setiap hari agar mencerminkan identitas dari suku mbojo tersebut.

Oleh karena itu, generasi muda dari suku mbojo harus tetap melestarikan budaya rimpu agar tidak hilang, karena sudah banyak bentuk berbusana modern yang bermunculan, generasi dari suku mbojo harus tetap menggunakan rimpu tersebut agar identitas diri masyarakat suku mbojo tercermin dari cara berbusana nya tersebut, generasi muda harus menggunakan rimpu tersebut setiap hari bukan saja mereka gunakan pada saat acara-acara atau ivent-ivent besar saja sehingga mereka terbiasa berpakain busana rimpu tersebut, sehingga budaya rimpu setidaknya dapat dikenal oleh semua orang bukan cumin dari suku mbojo saja yang mengenal adanya berbusana seperti memakai ninja tersebut, kita sebagai generasi mud suku mbojo harus merasa bangga memili cara berbusa yang berbeda dengan dareah lain sehingga budaya berbusana rimpu harus tetap di pertahankan samapai kapanpun.