Jumat, 13 Oktober 2023

Dua Pendaki Indonesia melakukan Pendakian Gunung Eiger di Swiss

Dua Pendaki Indonesia melakukan Pendakian Gunung Eiger di Swiss


Empat pendaki dari Indonesia melakukan pendakian dengan membawa misi ekspedisi Alpine Trilogy. Digagas Komite Ekspedisi Wanadri Indonesia (KEWI), ekspedisi meliputi pendakian ke tiga puncak gunung di Pegunungan Alpen, yakni Eiger 3.967 Mdpl, Matterhorn 4.487 Mdpl, dan Mont Blanc 4.807 Mdpl. 

Mereka sudah sejak 21 Agustus 2023 lalu, empat orang tim yang tergabung dalam Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri).

Iwan “Kwecheng” Irawan, pendaki senior Wanadri yang tergabung dalam tim Alpine Trilogy juga mewakili Eiger Adventure Service Team, menceritakan bahwa tim butuh waktu berhari-hari untuk melakukan aklimatisasi tubuh juga mengumpulkan semua data informasi dan teknis yang diperlukan. 

“Ketiga puncak gunung yang dituju, membutuhkan keterampilan teknis dan pengalaman pendakian yang tinggi. Berbagai hambatan silih berganti selama proses percobaan pendakian, mulai dari gelombang panas esktrem yang melanda Swiss hingga cuaca berubah jadi badai salju,” ungkap Iwan melalui siaran pers, Senin (11/9/2023).

1. Pendakian ke puncak dua gunung tertunda


Akibat cuaca panas ekstrem yang melanda Eropa, pendakian ke Mont Blanc terpaksa tertunda karena jalur pendakian ditutup.

“Informasi kami terima mendadak, Mont Blanc ditutup karena gletser atau bongkahan es besar di jalurnya semakin retak dan menganga akibat gelombang panas, tak aman untuk pendakian,” kisah Iwan lewat sambungan telepon langsung dari Swiss. 

Empat orang pendaki Indonesia Iwan Irawan, Nurhuda, Muhammad Wahyudi, dan Muhammad Miftakhudin memutuskan melanjutkan ekspedisi menuju puncak kedua, yakni Matterhorn pada ketinggian 4.487 Mdpl. Berawal dari Desa Zermatt, desa terdekat menuju Matterhorn, cuaca lagi-lagi tak sesuai dengan rencana, di Zermatt malah turun badai salju. 

“Sejak dari Zermatt badai salju besar datang hingga menghadang kami di tengah jalur, tepatnya di Solvayhuette. Terlalu berbahaya untuk dilanjutkan hingga puncak Matterhorn, dan akhirnya kami kembali ke Zermatt,” ungkap Iwan.

2. Gunung Eiger jadi salah satu gunung yang sulit didaki


Usai memulihkan fisik dan mental selama tiga hari, empat orang pendaki Indonesia kembali melanjutkan misi ketiga, Gunung Eiger pada ketinggian 3.967 Mdpl. Menurut Iwan, Gunung Eiger secara teknis termasuk satu dari pendakian tersulit di dunia.

“Jalur pertama ke puncak Eiger kami coba lewat Heckmair, tapi pijakan di atas es dinding Eiger jalur Heckmair terus menerus runtuh karena cuaca panas. Akhirnya kami ubah jalur melalui West Flank. Kondisi salju yang mencair karena suhu panas juga terjadi di jalur West Flank, namun jalurnya tidak seberbahaya jalur Heckmair,” cerita Iwan. 

Batu cadas tajam dipijak dan digenggam erat, tangan dan kaki meraih es dan mendaki vertikal, memanjat lereng Eiger dengan teknik juga standar keselamatan tinggi. Empat orang pendaki Indonesia menggunakan peralatan teknis yang membutuhkan jam terbang tinggi di urusan pendakian berbahaya. 

3. Cidera dialami dua pendaki lainnya


Hingga akhirnya dua orang pendaki yakni Iwan ‘Kwecheng” Irawan dan Nurhuda berhasil mencapai puncak Gunung Eiger. Dua pendaki lain terpaksa menghentikan pendakian di tengah jalur karena alasan medis. Muhammad Miftakhudin mengalami cidera lutut bengkak dan tumit lecet.

“Hari Rabu 6 September 2023, Merah Putih berhasil berkibar di atas puncak Gunung Eiger 3.967 Mdpl, salah satu dari gunung tersulit dan paling berbahaya di dunia.

Usai mencapai puncak Eiger, satu malam dihabiskan untuk pemulihan dan mendirikan bivak menggantung di lereng cadas Eiger. Setelah anggota tim yang cidera perlahan pulih, empat pendaki Indonesia ini berhasil turun ke Kaki Pegunungan Alpen pada Kamis (7/9/2023) pukul 14.00 WIB. 

“Ekspedisi belum usai, masih ada beberapa percobaan lagi menuntaskan misi Alpine Trilogy. Mohon doa dan dukungan semoga empat orang pendaki asal Indonesia di Pegunungan Alpen selalu diberikan perlindungan, keselamatan dan kesehatan hingga kembali ke Indonesia,” pungkas Iwan. 

Copy@jabar.idntimes.com


berita pendaki gunung, berita adventure, pendaki gunung, kaos pendaki gunung, jasa pembutan website murah, website organisasi, website sekolah, website developer, pembutan website, website desa, website sekolah, website otomotif, website organisasi, sispala, mapala, komunitas, adventure, pendaki gunung, cerita pendaki gunung, marcandes adventure, gunung rinjani, gunung gede, websitemurah, 

Sepotong Kisah Petualangan Di Gunung Prau

Sepotong Kisah Petualangan Di Gunung Prau



Hujan rintik-rintik menyambut senja itu saat tiba di Dieng, tepatnya di Desa Patak Banteng. Dari desa inilah, salah satu titik pendakian menuju puncak Gunung Prau dimulai. Dari titik ini nampak para pendaki yang bersiap untuk melakukan perjalanan setapak demi setapak menuju puncak gunung yang berada di daerah Wonosobo Jawa Tengah ini.

Sebelum melakukan pendakian, para pendaki diwajibkan melakukan registrasi di basecamp Patak Banteng dan membayar tiket masuk sebesar Rp8.000 per orang, biasanya pendaki berdoa dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak setinggi 2565 meter dari permukaan laut tersebut.


Dataran Tinggi Dieng memang dikenal sebagai daerah pegunungan dan Gunung Prau merupakan satu dari sekian banyak puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng yang kian menjadi primadona baru di kalangan para pendaki, pecinta alam, dan petualang dari berbagai kota-kota besar khususnya di Pulau Jawa.


Beberapa pendaki dari Jakarta mengaku lebih memilih untuk mendaki Gunung Prau sebagai pengisi akhir pekan mereka daripada ke Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang jaraknya lebih dekat dari ibu kota.

Di akhir pekan, puluhan hingga ratusan pendaki bahkan rela jauh-jauh mengunjungi Gunung Prau yang tepat berada di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini.

Puncak Gunung Prau sendiri menjanjikan panorama yang sedikit berbeda dari gunung-gunung lainnya yang ada di Indonesia. Dari sana, pendaki bisa menyaksikan bagaimana Dataran Tinggi Dieng diapit oleh deretan pegunungan seperti, Sindoro, Sumbing, dan Sikunir. Satu yang menarik, salah satu jalur menuju puncak Gunung Prau memiliki panorama layaknya deretan bukit di lembah Teletubbies.

Jalur Patak Banteng merupakan jalur singkat yang cukup menantang dengan kontur menanjak hampir tanpa jeda. Jalur ini terdiri dari tiga pos, yaitu pos satu, Sikut Dewo. Sementara pos dua, Canggal Walangan dan pos tiga, Cacingan. Rute di jalur ini menawarkan paduan keindahan petak-petak kebun sayur penduduk, hutan pinus, hingga bukit-bukit savana yang cantik dihiasi hamparan bunga-bunga daisy kecil-kecil.

Biasanya jika pendakian lancar bisa menghabiskan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari basecamp Patak Banteng menuju puncak Prau. Letih dan peluh selama perjalanan seperti terbayar dengan segala keindahan Puncak Gunung Prau. Copy@indonesiakaya.com


berita pendaki gunung, berita adventure, pendaki gunung, kaos pendaki gunung, jasa pembutan website murah, website organisasi, website sekolah, website developer, pembutan website, website desa, website sekolah, website otomotif, website organisasi, sispala, mapala, komunitas, adventure, pendaki gunung, cerita pendaki gunung, marcandes adventure, gunung rinjani, gunung gede, websitemurah, 

Rabu, 17 Mei 2023

Gunung Gede Pangrango, Favorit Soe Hok Gie yang Sakral

Gunung Gede Pangrango, Favorit Soe Hok Gie yang Sakral


Taman Nasional Gunung Gede Pangrango membentang di 3 wilayah: Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Gunung dengan tinggi 3.019 mdpl ini menjadi favorit para pendaki, dan cocok untuk pemula.

Pemandangan yang indah dengan alam yang masih terjaga membuat Gunung Gede menjadi salah satu gunung di Jawa Barat yang direkomendasikan untuk didaki.

Dikutip dari https://simdpkk.menlhk.go.id, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, ternyata merupakan satu dari lima taman nasional pertama yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.

Memiliki luas 24.270,80 ha yang menyuplai kebutuhan air lebih dari 30 juta manusia di sekitarnya meliputi Cianjur, Sukabumi, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi bahkan Bandung.


Gunung Gede Pangrango mulai dikenal luas usai pendaki eropa pertama di Gunung Gede Pangrango adalah Rafles dari eropa pada tahun 1870, setelahnya kawasan ini menjadi magnet bagi peneliti-peneliti asing seperti Bartel, Junghun, Van Stainis, dan Teijsman untuk mengekspolrasi dan meletakan dasar bagi dokumentasi kekayaan alam Gunung Gede Pangrango.


Terbaru, pada tahun 2014 luasan TNGGP berubah menjadi 24.270,80 ha (Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.3683/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 8 Mei 2014.

Taman Nasional ini merupakan perwakilan hujan hutan tropis di Jawa yang relatif masih utuh. Berdasarkan ketinggiannya dapat dibedakan menjadi tiga tipe ekosistem, yaitu hutan pegunungan bawah (sub montana), hutan pegunungan atas (montana), dan sub alpin.

Selain ketiga tipe ekosistem utama tersebut, ditemukan beberapa beberapa ekosistem khas lainnya yang tidak dipengarahui ketinggian tempat, yaitu rawa, kawah, alun-alun, danau dan hutan tanaman.

Salah satu lokasi di Gunung Gede Pangrango, yakni Mandalawangi bahkan merupakan tempat favorit bagi Soe Hok Gie, aktivis yang legendaris.


Bahkan Soe Hok Gie secara khusus membuat puisi tentang Pangrango dan Mandalawangi, yang sebagian bunyinya :

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi, Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada, Hutanmu adalah misteri segala

Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan

Menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966

Soe Hok Gie


Pesona Mandalawangi semakin mencengkeram para pemujanya karena di lembah ini terhampar tananan eksotik dan endemik khas daerah alpina atau montana. Anphalis javanica atau edelweis merupakan tanaman yang banyak ditemui di pegunungan pulau Jawa, termasuk di Mandalawangi.

Edelweis di kalangan pendaki bagaikan maskot yang amat dibanggakan. Bunga ini pun dijuluki sebagai bunga abadi, karena tidak layu meski telah lama dipetik. Menjadi simbol keabadian cinta kasih dan kesetiaan.


Ketenaran Taman Nasional ini, membuatnya dikunjungi lebih dari 160 ribu wisatawan per tahun, dan rata-rata 60 ribu orang diantaranya melakukan kegiatan pendakian.

Pengelolaan pendakian memperhatikan daya dukung kawasan, sehingga TNGGP menjadi yang pertama di Indonesia menerapkan kuota pendakian dengan jumlah pendaki 600 orang per hari. Tujuannya untuk kelestarian kawasan dan terutama keselamatan dan kenyamanan pendaki.

Sementara itu, untuk warga Cianjur, Gunung Gede Pangrango merupakan tempat yang sakral.


Persemayaman Eyang Raden Suryakencana

Sejarawan sekaligus Sekretaris Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) Luki Muharam, menjelaskan, jika Gunung Gede Pangrango merupakan tempat bersemayamnya Eyang Raden Suryakencana.

Selain itu, berdasarkan cerita rakyat di Cianjur, di Gunung Gede Pangrango tepatnya di Alun-alun Suryakencana juga terdapat kerajaan gaib.

Di kawasan tersebut berdiri megah 24 leuit (tempat penampungan padi) dan 25 pohon kelapa secara berjajar.

"Adanya Raden Suryakencana dan kerjaan gaib itu membuat warga Cianjur menjadikannya sebagai tempat yang sakral dan suci," ucap dia.

"Saya berharap wisatawan atau pendaki bisa menghormati apa yang dipercaya masyarakat Cianjur. Tidak berkata tidak pantas atau istilahnya sompral saja tidak boleh. Ada juga yang mempercayai jika berbuat tidak pantas, maka pendaki akan dibuat tersesat," kata dia. Copy@detik.com



Kaos Adventure Limited Replika Poster

Rp.80.000,- luar ongkir

- Bahan cotton combed 30s adem

- Media Disain Digital DTF A4++

Untuk pemesanan bisa langsung cat WA Kontak 08212239006